Halaman

Senin, 04 Februari 2013

IPNU DULU, KINI DAN AKAN DATANG: Ikhtiyar Menuju Organisasi Pemberdaya


Achmad Syauqi 

Ketua Umum PP IPNU MASA KHIDMAT 2009-2012

(1)

Mula-mula ingin saya katakan bahwa IPNU adalah “The main place of regeneration”. Kalimat itu patut disematkan kepada IPNU sebagai tulang punggung kaderisasi NU, sekaligus kaderisasi bangsa.

Betapa tidak! IPNU sejak awal kelahirannya telah mengemban amanat luhur sebagai pengkaderan pelajar yang merupakan basis generasi muda NU. Pada saat bersamaan, secara ideasional diaspora potensi kader diharapkan mampu mewarnai dinamika NU dalam konteks keumatan dan menjadi penentu sejarah bangsa dalam konteks kebangsaan.
Inilah posisi penting IPNU ditengah fluktuasi problematika keumatan dan kebangsaan sejak dulu, sekarang bahkan hingga di masa yang akan datang. Sebab kehadiran IPNU dilandasi oleh kebutuhan hadirnya kader pemimpin umat dan pemimpin bangsa yang mempunyai kemapanan sikap mental, kearifan perilaku, kecerdasan spiritual, kekayaan khazanah keilmuan dan inovasi tinggi. Kader IPNU adalah para inisiator unggul yang mampu mengkreasi tawaran-tawaran solutif atas problem pendidikan, problem stagnasi kaderisasi maupun dilema sosial kebangsaan yang ada selama ini dan akan datang.

(2)

Sebelum mengeksplorasi lebih lanjut orientasi progresif dan kerangka masa depan organisasi yang kita cintai ini, alangkah baiknya kalau kita menapak-tilasi jejak-jejak historis IPNU untuk mengetahui spirit masa (zeitgeist) dari ruang diskursif generasi IPNU yang berbeda-beda.
Ditilik dari latar historis, semangat berorganisasi dan berkader di IPNU tampak dari cikal bakal kelahirannya. Semenjak adanya Persano (Persatoean Santri Nahdlatoel Oelama) pada 1939, IMNU (Ikatan Murid Nahdlatul Ulama) di Malang pada 1947 dan di Semarang 1950, PARPENO (Persatoean Pelajar Nahdlatoel Oelama) di Kediri sampai keberadaan Ikatan Pelajar Islam Nahdlatul Ulama di Bangil. Hingga pada kongres LP Ma’arif di Semarang tanggal 24 Februari 1954/20 Jumadil akhir 1373 H, almarhum Tholchah Mansyur (Malang), Sofyan Cholil (Jombang), H. Mustamal (Solo) bermusyawarah untuk mempersatukan organisasi-organisasi tersebut dalam satu wadah, satu nama dan satu faham dengan nama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang disingkat IPNU.
Sejak saat itu  IPNU berada dibawah naungan LP Ma’arif. Dan tepatnya di Kongres IV Surabaya tahun 1966, IPNU resmi menjadi badan otonom NU. Pada perkembangan selanjutnya IPNU sempat mengalami peredupan kiprah dan penurunan, karena terimbas oleh despotisme kebijakan pemerintah dan benih totalitarianisme Orde Baru. Hal ini berimplikasi pada akomodasi kepentingan negara untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dengan merubah akronim ‘pelajar’ menjadi ‘putera’. Perubahan nama itu berkonsekwensi pada perluasan zona garap dan target group yang awalnya spesifik ke ranah pelajar, menjadi lebih makro ke ranah pemuda secara umum. Kondisi semacam itu sekaligus memengaruhi fokus kinerja dan kerangka programatik IPNU secara keseluruhan.
Sehingga amanat Kongres XIII di Makassar pada Maret 2000 menitahkan agar IPNU kembali ke basis pelajar dan santri. Dan secara verbal akronim ‘putera’ pun dikembalikan kepada ‘pelajar’ pada Kongres XIV pada 18-24 Juni 2003 di Surabaya. Hingga saat ini pun, Ikatan ‘Pelajar’ Nahdlatul Ulama mempunyai target group pelajar yang berkorelasi langsung dengan beragam problem pendidikan secara menyeluruh.

(3)

Napak tilas singkat historiografi IPNU diatas telah menjelaskan kepada kita semua bahwa semenjak awal hingga kini dan nanti di masa mendatang, IPNU tetap konsisten, istiqomah dan berkomitmen menjadi ruang dialektika kader-kader pelajar, sekaligus sebagai ‘kawah candradimuka’ kaderisasi generasi masa depan NU.
Positioning semacam ini secara kontinyu dilakoni oleh IPNU, sehingga IPNU sedang dan telah menjadi organisasi pembelajar, meski secara ideal masih membutuhkan berbagai pembenahan disana-sini. Sebagaimana yang sering saya sampaikan, bahwa organisasi pembelajar atau learning organisation adalah organisasi yang tidak hanya menghasilkan produk, tapi juga melakukan peningkatan kualitas diri, terobosan, kreatifitas dan kemampuan multidisipliner.
Harus kita sadari bersama bahwa IPNU saat ini dan di masa mendatang, menghadapi berbagai tantangan yang kian hari kian berat. Dalam berbagai kesempatan tidak jarang saya menyampaikan adanya berbagai tantangan IPNU ke depan, terkait problematitika makro-eksternal seperti liberalisasi ekonomi yang berpengaruh pada kapitalisasi dunia pendidikan, kian merosotnya Human Development Index atau rating kualitas SDM Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain, maupun kegagapan kita dalam mengadaptasi kemajuan teknologi dan informasi.
Salah satu problem yang tak kalah penting adalah benih radikalisasi agama yang kini sedang menggejala di kalangan pelajar. Penelitian paling mutakhir oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian, menyebutkan 48,9 persen pelajar tingkat SMP dan SMA di Jabodetabek menyatakan siap melakukan kekerasan terkait isu agama dan moral. Fakta ini tentu sangat mencengangkan kita semua.
Berbagai ikhtiar programatik telah dan sedang kita laksanakan untuk menjawab fenomena tersebut. Diantaranya, sejak awal kepengurusan kita di PP IPNU, radikalisme agama merupakan satu mind issue yang secara konsisten kita lawan. Kita telah mendesak pemerintah untuk mencabut dan meninjau ulang SK Menteri Pendidikan Kebudayaan RI Nomor 0209/4/1984 dan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud tanggal 9 Juni 1980 tentang monopoli OSIS sebagai organisasi pelajar, karena nyata-nyata di dalamnya telah tumbuh subur penanaman benih radikalisme melalui Rohis (rohaniawan Islam). Kita bahkan telah bertemu dengan wakil Presiden Boediono dan menyampaikan desakan untuk segera menyikapi dan bertindak tegas terhadap ancaman radikalisasi di kalangan pelajar. Beragam program empat pilar yang bekerja sama dengan MPR RI juga sedang dalam proses pelaksanaan, sebagai bukti keterlibatan aktif IPNU menopang Pancasila, nasionalisme dan eksistensi NKRI dari rongrongan kaum radikalis.
Selain itu pula, dalam rangka meningkatkan kualitas SDM kader IPNU, kita sedang menggalakkan pendidikan anak-anak pintar usia SMA agar mempunyai kemampuan ilmu multidisipliner, kepiawaian berorganisasi, mengasah talenta kepemimpinan sekaligus mempunyai social and political concern. Upaya itu kita lakukan melalui Beasiswa Pintar. Kita juga telah dan sedang menggalakkan peningkatan kapasitas militansi dan pendalaman materi kaderisasi melalui berbagai workshop kadiresasi dan rencana pembuatan modul kaderisasi, meski hingga kini masih menemui beberapa hambatan. Kita berharap semoga segera tuntas.

(4)

Dialektika programatik yang telah dan sedang kita gagas sesungguhnya menjadi ikhtiyar dan ijtihad organisatoris dalam memerankan diri sebagai learning organisation dan menjawab himpitan tantangan yang kita hadapi saat ini.
Lebih lanjut, tidak sekedar kebutuhan akan learning organisation, di masa mendatang IPNU harus siap menjadi organisasi pemberdaya (empowering organisation), yaitu organisasi yang mampu memberdayakan para kadernya menjadi para kreator, inisiator dan inspirator yang menjalankan roda organisasi ke arah peran-peran profetik-keumatan dan kebangsaan. Ketiga kata: ‘kreator, inisiator dan inspirator’ itulah yang menjadi motor penggerak dinamika organisasi.
Ketiga katab kunci tersebut didalam Empoworing organization sebagaimana digagas oleh David Gershon dalam The Empowering Organization: Changing Behavior and Development Talent in Organizations, memerlukan sinergi yang baik dari masing-masing kader di dalam organisasi. Setidaknya terdapat lima pilar utama menuju organisasi pemberdaya.
Pertama, tanggungjawab bersama (group responsibility). Tanggungjawab bersama ini mutlak dilakukan melalui sinergi programatik sesuai kewenangan masing-masing.
Kedua, kepercayaan (trust). Ini penting diberdayakan antar masing-masing elemen di dalam organisasi agar terjadi mutualisme pola kerja dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Ketiga, keseriusan berproses bersama dalam meningkatkan kemampuan diri (personal and group processe skill). Beragam permasalahan dan  tantangan yang dihadapi organisasi harusnya dijadikan alat untuk belajar mencari formula solutif. Jadi kader-kader IPNU akan terbiasa menghadapi masalah dan sekaligus menyelesaikannya dengan cepat dan tepat.
Keempat, pembelajaran dan pengembangan diri (learning and growing). Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi (humanis). Melalui pembelajaran kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebelumnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan. Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan pesan moral yang terkandung dalam salam kebanggaan warga IPNU, "belajar, berjuang, bertaqwa".
Kelima, saling menjaga (carying). Organisasi akan karut-marut jika kader satu dan lainnya tidak saling menjaga, sebaliknya saling menjegal. Ini artinya, betapapun kuatnya arus politik yang terjadi di dalam organisasi sebagai bagian dari dinamika internal, musti ada kesepakatan bersama sejauhmana koridor politik dilakukan, dan sejauhmana masing-masing kader saling menopang dan menjaga satu dan lainnya.
Nah, kelima poin tersebut diatas menjadi semacam inspirasi dan terapi bagi IPNU untuk melahirkan kader-kader militan, kreator, inisiator dan sekaligus inspirator. Pada akhirnya, empowering organization dapat menjadi peta jalan (road map) bagi proses menuju IPNU yang berdaya, kreatif, inovatif dan inspiratif. Sehingga harapan NU dan harapan bangsa kepada kader-kader IPNU untuk menata masa depan tidak akan sia-sia.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thoriq

Kelahiran Nabi Anugerah Terbesar

Bulan Rabiul awal yang biasa disebut bulan maulid adalah bulan yang tidak pernah terlupakan oleh orang muslim, karena pada bulan ini seorang putra terbaik dari Bani Hasyim Bangsa Arab, sesosok pemuda teladan yang kemudian menjadi pemimpin terbesar dunia telah dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul awal, bertepatan dengan 20 April 571 M.
Muhammad, nama ini selalu dikenal seantero penjuru dunia. Dia telah berhasil merubah  wajah dunia menjadi bermakna, dari gelap menjadi terang, dari kebodohan menjadi berperadaban. Dialah seorang yang telah mengantarkan manusia kepada nilai kemanusiaannya yang tinggi, dialah yang telah mengembalikan manusia kepada keberadaan yang sebenarnya yaitu mulia dan sempurna sebagaimana pertama kali dimaksudkan.
Beberapa peristiwa luar biasa mengiringi kelahiran beliau, diantaranya adalah padamnya api pemujaan di Persi yang seribu tahun sebelumnya tak pernah padam sama sekali, hancurnya pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah yang hendak menghancurkan ka’bah. Mereka hancur ditimpa batu - batu panas  yang dibawa burung-burung ababil yang sengaja dikirim Allah untuk membatalkan niat busuk mereka, serta banyak lagi kejadian luar bisa lainnya.

Kenyataan ini tentu saja membuat kita merasa berterima kasih dengan kedatangannya. Sebagaimana laiknya kita sebagai umatnya, memperingati hari dan bulan ini sebaik-baiknya dengan melihat dan membaca kembali sejarah perjalanan pribadi dan kepribadian beliau. Allah selalu membimbing, mengarahkan dan mengingatkan orang - orang yang menginginkan kehidupan Ahirat. Dalam konteks ini Allah menguraikan dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al-Ahzab 21.
Dalam firman ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang menginginkan kehidupan Ahirat, maka hendaklah mereka meniru kepribadian Rasulullah saw. Menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan suri tauladan, bukan kepada yang lain. Sebuah pengakuan jujur dari seorang penulis non Muslim telah dituangkan dalam buku seratus tokoh dunia tentang pribadi Nabi Muhammad Saw. Penulis buku ini telah menempatkan Nabi Muhammad Saw pada tingkat pertama disusul oleh tokoh-tokoh dunia lainnya.

Ini semua karena beliau Nabi Muhammad telah berhasil menghapuskan segala bentuk penindasan kepada masyarakat yang lemah, beliau menghapuskan sistim perbudakan yang jelas-jelas merendahkan martabat manusia, beliau tutup jurang pemisah antara yang kaya dan miskin, beliau persatukan manusia yang semula bermusuhan dan menjadikan mereka bersaudara, beliau berhasil meletakkan landasan kemanusiaan, yaitu bahwa tidak ada perbedaan antara satu suku dengan lainnya, bangsa satu dengan bangsa lainnya, komunitas satu dengan komunitas lainnya apapun warna kulit dan keturunannya, tidak ada yang membedakan mereka kecuali takwanya kepada Allah, inilah nampaknya yang dimaksudkan
Allah SWT dalam firman-Nya :

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” QS Al-Anbiya 107.

Dengan ayat ini, jelaslah bahwa Nabi Muhammad Saw diutus ke dunia ini bukan hanya untuk satu golongan atau komunitas tertentu, melainkan untuk kesejahteraan manusia sedunia. Oleh karena itulah, beliau memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang luar biasa,  mempunyai sifat keberanian dalam membawa kebenaran.
Kelemahan umat Islam sekarang ini, diantaranya adalah, mereka telah melupakan pribadi dan sifat-sifat beliau. Mereka tidak lagi meneladani kepribadian beliau. Para pemimpin tidak lagi meniru gaya kepemimpinan Rasul yaitu pimpinan yang berani menegakkan kebenaran. Pedagang tidak lagi meniru praktek dagang yang pernah dilakukan Rasul. Orang tua tidak lagi mempraktekkan gaya Rasul. Guru tidak lagi mempraktekkan cara beliau mendidik generasi mudanya. Masyarakat telah melupakan panutan ini, sehingga ahirnya mereka menjadi masyarakat yang terombang ambing kehidupan dunia yang melenakan.

Semangat bulan maulid ini, yang selalu diperingati dengan pembacaan barzanji, pembacaan sholawat, pembacaan Marhaban serta lainnya  merupakan sebuah titik tolak ukur kita untuk bersama-sama  membaca kembali sejarah kepribadian Nabi dan menjadikannya sebagai satu-satunya panutan yang akan menghiasi lembar demi lembar kehidupan kita bersama. Jadi tidak salah bahwa kelahiran nabi yang telah dinanti-nantikan pada masa jahiliyah merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT, sehingga sampai saat ini kita merayakannya dengan cara kita masing-masing. Kelak kita akan mendapatkan syafaat Nabi diakhir kelak. Amiiin.

TUJUH TEMPAT DILARANG SHOLAT

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.
Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلي في سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام،  ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى
Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) ka’bah.
Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara’, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas ka’bah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

وقيل المقبرة والمجزرة والمزبلة والحمام للنجاسة، وقارعة الطريق قيل لأن فيه حقا للغير فلا تصح الصلاة فيها واسعة كانت أو ضيقة لعموم النهي، ومواطن الإبل بأنها مأوى الشياطين، وفوق ظهر بيت الله فإنه إذا لم يستقبل بطلت الصلاة لعدم الشرط لا لكونها على ظهر الكعبة
Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas ka’bah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Minggu, 03 Februari 2013

REOR RANTING MELUNG

REOR RANTING MELUNG

Pada tanggal 03 Februari 2013, dilaksanakan REOR Pengurus Ranting Melung acara dimulai dengan Tahlil yang dipimpin oleh Rekan Cepri Trianggoro, dilanjut dengan pembukaan Reor Pengurus Ranting Melung.

peserta dari IPPNU


peserta IPNU


sambutan dari Rekan Suman

Peserta sangat antusias mengikuti acara demi acara, sambutan pertama dari Bapak Heru Mewakili dari perangkat desa Melung. sambutan kedua dari Ketua Umum Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng Rekan Miftah. Sambutan ketiga dari Pembina IPNU Ranting Melung Rekan Suman, Rekan Suman berpesan kepada Pengurus Anak Cabang supaya bisa lebih memantau dan memperhatikan kondisi ranting-ranting. Dan ini menjadi PR tersendiri buat Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng. Acara dilanjut dengan pembacaan LPJ dari Ketua IPNU dan IPPNU yaitu Rekan Imam dan Rekanita Sofi. Setelah pembacaan LPJ dilanjut dengan pembaacan tata tertib pemilihan ketua, yang dipimpin langsung oleh Rekan Miftah. Selesai pembacaan tata tertib dilakukan tahap penjaringan dan pencalonan, ada pun nama-nama calon dari IPNU dan IPPNU adalah sebagai berikut :

IPNU
  • Rekan Sahlan
  • Rekan Udin
  • Rekan Maskuri
  • Rekan Agus Puryoko
IPPNU
  • Rekanita Novita
  • Rekanita Renita
  • Rekanita Anindya
  • Rekanita Lilis
Pemilihan ketua dimulai dari semua peserta yang hadir suara yang masuk dari IPNU sebanyak 28 suara selisih satu dari daftar hadir, IPPNU sebanyak 41 selisih 2 dari daftar hadir. Dan hasil perhitungan suaranya adalah sebagai berikut :

IPNU
  • Rekan Sahlan               : 2 suara
  • Rekan Udin                  : 15 suara
  • Rekan Anindya             : 10 suara
  • Rekan Agus Puryoko    : 1 suara
IPPNU
  • Rekanita Novita            : 7 suara
  • Rekanita Renita             : 7 suara
  • Rekanita Anindya          : 21 suara
  • Rekanita Lilis                 : 6 suara
Jadi yang menjadi Ketua Ranting IPNU dan IPPNU masa Khidmat 2013-2015 adalah Rekan Udin dan Rekanita Anindya.
Penyerahan secara simboli dari Ketua Umun PAC Kedungbanteng Rekan Miftah kepada Ketua terpilih Rekan Udin


Penyerahan secara simboli dari Ketua Umun PAC Kedungbanteng Rekanita Fathurrohmah kepada Ketua terpilih Rekanita Anin
Semoga IPNU IPPNU Ranting Melung bisa tetap istiqomah menjalakan organisasi, dan selalu diberi kemudahan oleh Alloh SWT serta mendapat naungan dan ridlo Alloh SWT.
Setelah selesai acara dilanjut menghadiri acara Ahad Pon di Ranting Kalisalak, pengajian yang di isi oleh Gus Abror dari Langgong sari yang inti dari pengajiannya beliau mengajak agar kita pandai-pandai bersyuku dalam keadaan apapun dan menghimbau kepada IPNU IPPNU supaya tidak ketinggalan sholat berjamaah.

suasana masuk Ahad Pon


Jumat, 01 Februari 2013

PERTEMUAN PENGURUS IPNU ANAK CABANG KEDUNGBANTENG


PERTEMUAN PAC IPNU

Setelah tim formatur mengadakan pertemuan Penetapan dan Pemantapan Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng di rumah Rekan Bait ( Ranting Dawuhan Wetan ) dan mengumpulkan data pengurus sementara PAC Kedungbanteng. Data diambil dari tiap-tiap ranting yang menurut pandangan tim formatur aktif dalam kegiatan-kegiatan IPNU. Setelah data terkumpul Ketua tim formatur bersama anggota langsung turun ke ranting-ranting guna menanyakan kesanggupan dari yang bersangkutan.

Pada tanggal 1 Februari 2013 ketua tim formatur mengadakan pertemuan seluruh anggota yang terpilih menjadi Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng. Pertemuan dilaksanakn di rumah Rekan Bait, lebih dari 20 anak yang menghadiri undangan terdiri dari ranting-ranting sekecamatan kedungbanteng. Dalam pertemuan ini acara dibuka oleh ketua umum ( Rekan Miftah ), ada pun acaranya :
  • TAHAP PERKENALAN
Pada tahap ini diharapkan semua Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng bisa saling mengenal lebih jauh, suasana ceria terpancar dari anggota ketika satu per satu Rekan-rekan mengenalkan dirinya. Rekan Miftah menyarankan kepada semua pengurus agar lebih rileks dalam acara ini, untuk membentuk suasana yang lebih kekeluargaan. Jadi tidak terlalu formal tapi ada kalanya kita semua bisa lebih formal tergantung situasi dan kondisi.
  • PEMBACAAN PPOA
Karena hampir semua anggota Pengurus Anak Cabang IPNU anak baru jadi dibacakan PPOA yang menyangkut cara kerja Pengurus Harian, Departemen-Departemen, dan Lembaga. Dalam tahap ini semua pengurus diberi kesempatan untuk berpindah khususnya pada Departemen-Departemen dan Lembaga. Diharapkan pengurus yang masuk di departemen lebih sesuai dengan karakter diri, sehingga tidak kesulitan dalam mengemban tugas nantinya.
  • PEMBACAAN PENGURUS IPNU ANAK CABANG KEDUNGBANTENG
Setelah diberi kesempatan untuk memilih departemen yang sesuai dengan karakter, lalu susunan Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng dibaca dan ditetapkan. Lalu pengurus baru mengisi formulir kesanggupan menjadi Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng, sebelum acara ditutup Rekan Miftah menanyakan kesanggupan dari rekan-rekan secara langsung. " Apakah Rekan-Rekan sanggup menjadi Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng " pertanyaan peratama dijawab dengan lemah, pertanyaan kedua dijawab dengan semangat, pertanyaan ketiga dijawab dengan lebih semangat lagi.
dijawab serentak " SANGGUUUUUPPP "

Semoga Pengurus Anak Cabang Kedungbanteng selalu diberi kemudahan dan kesabaran dalam mengemban amat, serta mendapat naungan ridlo Alloh SWT. Aamiin...

KEGIATAN IPNU IPPNU

Mengisi Bulan Maulud

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sejak Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf naik daun kalangan muda maupun tua hobi bersholawat, apalagi anggota IPNU IPPNU Ranting Beji II. IPNU IPPNU yang tergabung dalam suatu group Hadroh SYIFA' USSAQOM selalu menggelar sholawatan setiap malam rabu di TPI MIFTAHUL MISBAH. Mengutip dari Habib Lutfi bin Yahya " Kadar bobot iman seseorang tergantung kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW ".

Untuk itu kegiatan sholawatan yang digelar setiap malam rabu masuk agenda kegiatan IPNU, tidak hanya kegiatan bersholawat pada malam rabu diadakan juga pembacaan kitab Al-Barjanji setiap malam selasa. Semoga kegiatan ini tetap istiqomah digelar dengan harapan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Semakin dalam cinta kepada Nabi Muhammad SAW semakin dalam pula iman kita. Semoga kita semua dalam naungan ridlo Alloh SWT. Aamiin....

HASIL SIDANG KOMISI C


RANCANGAN MATERI KOMISI C
IPNU IPPNU ANAK CABANG KEDUNGBANTENG


A. Latar Belakang

IPNU IPPNU sebagai bagian dari organisasi NU yang mempunyai jumlah anggota yang banyak dan majemuk dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, memerlukan management / pengelolaan yang sesuai dengan kondisi anggota. Fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat dapat mempengaruhi eksistensi Nahdlatul Ulama. Untuk itu NU dan nivennya, khusuya IPNU IPPNU harus melakukan kerjasama yang baik karena bidang garap yang ditangani NU dan nivennya mempunyai kaitan satu sama lain.

Sebagai Pimpinan Anak Cabang yang menangani Ranting dan Komisariat harus terus mengawal perubahan yang terjadi pada organisasi dan anggotanya. Kondisi Ranting dan Komisariat memerlukan penanganan yang serius agar eksistensi NU khususnya di wilayah Kecamatan Kedungbanteng dapat terus diperjuangkan, karena tumbuh dan berkembangnya Anak Cabang merupakan cerminan dari tumbuh dan berkembangnya Ranting / Komisariat.

B. Rekomendasi

Sebagai bahan untuk meningkatkan kualitas dan eksistensi organisasi, komisi rekomendasi mengemukakan pokok-pokok pikiran yang mengarah pada usaha pengetasan masalah-masalah yang muncul pada kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka IPNU IPPNU memandang perlu :
  1. Dalam segala kegiatan IPNU IPPNU harus berpegang pada nilai-niali Islam Ahlussunah Wal Jama'ah.
  2. NU sebagai organisasi induk diharapkan menjadi mediator tumbuh dan berkembangnya IPNU IPPNU
  3. Batasan usia untuk anggota IPNU IPPNU Anak Cabang Kedungbanteng maksimal 26 tahun
  4. Perlu menjalin kerja sama dengan pondok pesantren sehinga santri bisa terlibat dalam organisasi IPNU IPPNU
  5. Menjalin kerja sama dengan ormas lain dalam bidang-bidang tertentu yang tidak bertentangan dengan faham Ahlussunah Wal Jama'ah
  6. Mengupayakan terlaksananya management organisasi NU yang prefesional sehingga mampu merubah kondisi tatanan organisasi NU menjadi lebih baik
  7. IPNU IPPNU sebagai organisasi sosial keagamaan sama sekali tidak berafiliasi dengan partai politik manapun dan tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis
  8. Mengoptimalkan peran wirausaha IPNU IPPNU dalam meningkatkan sumber dana
  9. Melakukan pendataan anggota melalui data base dan KTA
  10. Seluruh proses kegiatan program dikembangkan dengan tujuan untuk terwujudnya perubahan mendasar bagi kader, baik perubahan pengetahuan / keterampilan maupun perilaku kader menjadi lebih baik
  11. Merekomendasikan anggota ke Pengurus Cabang Banyumas di Konfercab

Ditetapkan di : Kedungbanteng
Pada tanggal : 12 Januari 2013
Pukul            :     22:42 WIB