Halaman

Minggu, 23 Juni 2013

Detik-detik Wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Hikmah

Detik-detik Wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Jasadnya memang sudah terkubur lebih dari delapan abad. Namun nama dan tauladan hidupnya tetap membekas kuat di kalangan umat Islam. Dialah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ulama sufi kelahiran Persia yang kemasyhurannya setingkat dunia.

Syekh Abdul Qadir terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, dan dengan risiko apapun. Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Jejak Syekh
Abdul Qadir juga dijumpai dalam belasan karya orisinalnya.

Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.

”Aku diumpamakan seperti batang yang tanpa kulit,” sambung Syekh Abdul Qadir. ”Menjauhlah kalian dari sisiku sebab yang bersamamu itu hanyalah tubuh lahiriah saja, sementara selain kalian, aku bersama dengan batinku.”

Putra lainnya, Abdul Azis, bertanya tentang keadaannya. ”Jangan bertanya tentang apapun dan siapapun kepadaku. Aku sedang kembali dalam ilmu Allah,” sahut Syekh Abdul Qadir.

Ketika ditanya Abdul Jabar, putranya yang lain, ”Apakah yang dapat ayahanda rasakan dari tubuh ayahanda?” Syekh Abdul Qadir menjawab, ”Seluruh anggota tubuhku terasa sakit kecuali hatiku.
Bagaimana ia dapat sakit, sedang ia benar-benar bersama dengan Allah.”

”Mintalah tolong Kepada Tuhan yang tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Dia. Dialah Dzat yang hidup, tidak akan mati, tidak pernah takut karena kehilangannya.” Kematian pun segera menghampiri Syekh Abdul Qadir.

Syekh Abdul Qadir al-Jainlani menghembuskan nafas terakhir di Baghdad, Sabtu bakda maghrib, 9 Rabiul Akhir 561 H atau 15 Januari 1166 M, pada usia 89 tahun. Dunia berduka atas kepulangannya, tapi generasi penerus hingga sekarang tetap setia melanjutkan ajaran dan perjuangannya.

Senin, 10 Juni 2013

Hubungan Tarekat dengan Merah Putih

Hubungan Tarekat dengan Merah Putih

Hubungannya gerakan Tarekat dengan Merah Putih yang menjadi cikal bakal bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dilihat dari budaya mengibarkan merah putih atau membalut merah putih pada bagian atap rumah atau suhunan yag sering disebut juga dengan istilah bubungan.

Istilah suhunan dalam bahasa Indonesia sering kehilangan hu, menjadi Sunan. Para Wali juga bergelar Sunan atau Suhunan. Dengan bertolak dari Hadist Rosullullah saw. :“Innallaha zawaaliyal ardha masyariqahaa wa magharibahaa, wa’athaniil kanzainil ahmara wa abyadha- sesunguhnya Allah memperlihatkan bumi kepada timur dan baratnya. Allah memberi dua perbendaharaan kepadaku merah dan putih.” (HR. Muslim).

Bertolak dari ajaran ini, betapa besarnya makna dari merah putih. Sehingga dibudayakan di tengah rakyat agar setiap pembangunan rumah diajarkan untuk membalut bagian kerangka atapnya atau suhunannya dengan kain warna merah putih atau dikibarkan bendera merah putih. Dan juga dalam kegiatan selamatan terutama pada peringantan hari besar Islam menggunakan simbolisasi warna merah putih, meskipun hanya pada pewarnaan bubur.
Sumber : TQN Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya (Ponpes Suryalaya)

Ketika Gus Dur Salah Jalan

HUMOR

Ketika Gus Dur Salah Jalan
Saat berada Kudus, Jawa Tengah, budayawan Ahmad Sobari kepada wartawan mengisahkan dirinya pada waktu menemani Gus Dur menghadiri sebuah kegiatan. Sudah menjadi kegemaran Gus Dur, setiap kali  kunjungan ke daerah selalu menyempatkan berziarah ke makam tokoh maupun ulama setempat.
Pada masa Orde Baru, cerita Kang Sobari, Gus Dur sedang berkunjung sebuah daerah. Di tengah perjalanan, tanpa ada yang membisiki  tiba-tiba Gus Dur menyuruh sopir menghentikan mobilnya.

“Mau kemana Gus?” tanya sang sopir.

“Di daerah ini terdapat makam ulama besar, saya pingin berziarah ke sana,” jawab Gus Dur sambil 
menyuruh sopir berbelok arah menuju makam yang dimaksud.

Ketika sudah menempuh beberapa jam makam yang dimaksudkan tidak tampak di depan mata.

“Gus, mungkin kita salah jalan, disini tidak  terlihat (ada) makam,” tanya Kang Sobari.

“Coba maju  sebelah sana,” jawab Gus Dur menyuruh sopirnya.

Mobil pun melaju perlahan menuju arah yang ditunjukkan Gus Dur. Tetapi mereka belum juga menemukan makam yang dimaksud.

“Masih nggak ada (makam) Gus!” kata Kang Sobari.
Sambil tersenyum, Gus Dur pun berseloroh, “Oh ya sudah. Barangkali jalannya sudah dirubah oleh Orde Baru.”

Kang Sobari dan sopir-pun hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Gus Dur dengan canda.

Selasa, 04 Juni 2013

Tepis Bid’ah ala Habib Umar

Tepis Bid’ah ala Habib Umar
Bagi ulama asal Semarang Habib umar Muthohar,  didebat kelompok yang menuding amalan Aswaja itu bid’ah dan syirik adalah hal  biasa. Habib sering menjawab dengan alasan sederhana dan penuh canda.
Bahkan setiap mengisi pengajian, Habib memberi contoh cerita jawaban debatan orang Wahabi

“Bib, emange orang mati ditahlilkan dido’akan  bisa nyampai?” tanya orang wahabi itu.

“Ya jelas sampai,” jawabnya.

“Kok bisa?” tanya balik orang tadi

“Buktinya, selama ini saya tahlilan untuk orang mati, tidak pernah dikembalikan oleh malaikat. berarti kan
nyampai.!”jawab Habib sambil guyon. Orang tadi hanya diam.

Begitu pula saat ditanya,orang dzikir kok pakai gedek (geleng kekiri –kekanan). Habib dengan enteng menjawab.

”Lha gedek-gedek dewe kok gak boleh,emange masalah buat Loe?. Kalo berdzikir sambil melempari
orang, sampeyan baru boleh mempermasalahkan.” tepis Habib.

Orang tadi tidak bisa berkutik,lagi-lagi terdiam.

Setelah Tentara Menempeleng Sufi

Setelah Tentara Menempeleng Sufi
Sejarah ulama-ulama sufi ternama periode klasik menyimpan dengan baik nama Syekh Abu Ishaq Ibrahim bin Adham. Kepribadiannya dipuji banyak kalangan lantaran sikap zuhud dan tawaduknya.
Siapa tak takjub, ketika jabatan elit sebagai Raja Balkh (Iran) ia tinggalkan demi kehidupan serba sederhana di jalan tasawuf. Kisah Syekh Ibrahim bin Adham sering terekam dalam sumber-sumber Arab dan Persia, seperti Imam Bukhari dan lainnya., sebagai tokoh sufi yang pernah bertemu dengan Nabi Khidzir.

Salah satu inspirasi yang dapat ditimba dari Syekh Ibrahim bin Adham adalah peristiwa di gurun pasir yang lapang. Dalam sebuah perjalanan, Syekh Ibrahim mendadak dihampiri seorang tentara berwatak kasar.

”Dimana kampung yang paling damai?” tanya tentara itu.

Syekh Ibrahim menjawab dengan isyarat telunjuk yang mengarah ke lokasi pemakaman. Tak puas dengan jawaban ini, si tentara pun menghantamkan kepalan tangannya tepat ke arah kepala Syekh Ibrahim. Aksi tentara itu berhenti setelah mengetahui bahwa yang ia pukul adalah Syekh Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, tokoh sufi dari Khurasan.

”Maafkan kekhilafan saya, wahai Syekh.”

”Saat kamu memukulku, aku berdoa kepada Allah agar memasukanmu kedalam surga,”

“Mengapa?”

”Aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena pukulanmu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan kerugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.”

Akhlak Syekh Ibrahim bin Adham seketika melelehkan hati batu si tentara. Cara Syekh Ibrahim menasihati dan ketulusannya menerima risiko menyadarkannya untuk lebih serius dalam mencari kebenaran.

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Umar di Kuburan

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Umar di Kuburan
Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah ketiga ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”
Dalam al-Aqthaf ad-Diniyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan.
”Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”

Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di kuburan. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, suara
tanpa rupa terdengar.

”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”

Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan  berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.

Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah ketiga ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.

Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.

Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.

”Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.”

Senin, 27 Mei 2013

Membela Warisan Salaf


Membela Warisan Salaf
Serangan Wahabi bukan cuma terjadi di kota-kota besar bahkan telah menyebar secara sporadis di basis rural kaum nahdliyyin. Di pulau Madura, kaum Wahabi yang kini menyebut dirinya Salafi giat menggempur keyakinan mapan kaum ahlusunnah wal jamaah.

Fakta 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa pola gerakan Wahabi dipusatkan pada dua titik konsentrasi. Pertama di kota-kota, untuk wilayah Madura sendiri gerakan Salafi memijakkan diri pada konsentrasi perumahan dan basis warga muslim modern. Sasarannya adalah kalangan profesional yang minim ilmu agama. Pola gerakan ini dijumpai di kota Sumenep, Pragaan Sumenep, Pamekasan juga Bangkalan. Kalangan urban yang cair dan tak terikat sistem kekerabatan ala Madura pedesaan serta tak memiliki loyalitas homogen adalah sasaran utama mereka. Keragaman masyarakat perumahan juga menjadi faktor plus bagi gerakan salafi.

Pola kedua gerakan Salafi dipusatkan di desa-desa terpencil yang minim terhadap akses ilmu agama. Pola ini dijumpai sejak pelosok Kangean sampai pedalaman Sumenep. Pada pola kedua, terlihat jelas taktik kaum Salafi dalam mengelabui masyarakat awam Madura pedalaman utamanya di kepulauan yang minim ilmu agama. Pada dasarnya masyarakat Nahdliyyin pedalaman di kepulauan merupakan massa NU mengambang yang bisa disasar kaum salafi karena akses terhadap kiai dan pesantren yang minim.

Padahal ajaran Aswaja telah menyatu dalam alam pikir Madura. Prinsip Almuhafadzatu ala qadimis Shaleh wa akhdzu bil jadidil ashlah telah diterapkan oleh muslim Madura. Salah satunya dalam konsep bhuppa’, babbhu’, guru, rato yang berasal dari konsep triguru Hindu Majapahit (Agus Sunyoto:2012). Madura juga teguh dalam memegang warisan ulama salaf sejak akidah, fikih dan tasawuf baik melalui para raja seperti Joko Tole, Bindhara Saod sampai Sultan Abdurrahman maupun melalui para ulama sejak Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Syamsul Arifin Kembang Koneng, para ulama Prajan Sampang, para ulama Bata-bata dan Banyuanyar Pamekasan, Kiai Abi Suja’ dan Zainal Arifin Sumenep, juga kalangan habaib sunni di seluruh Madura. Makam auliya Madura sejak Asta Sayyid Yusuf Talango sampai Asta Rato Ebu menjadi saksi teguhnya tradisi Aswaja di Madura.

Kini, tradisi dan ajaran Aswaja diserang ironisnya oleh orang Madura sendiri yang terpengaruh pemikiran Salafi. Buku ini merupakan jawaban terhadap buku-buku karya Kiai Shinwani yang menyerang pondasi Aswaja di Madura. Namun, patut menjadi catatan tentang sosok Kiai Shinwani pengarang buku Panduan Islam Dalam Logika yang kemudian dibantah oleh buku NU Versus Wahabi ini. Menurut sumber-sumber terpercaya, Kiai Shinwani merupakan tokoh sebuah pesantren di Modung, Bangkalan. Uniknya, sampai hari ini Kiai Shinwani tak terlihat sebagai tokoh Salafi. Di pesantrennya, jamak dilakukan tradisi tahlilan dan tradisi aswaja lain yang dianggap bid’ah oleh kaum Salafi. Istrinyapun aktif dalam kegiatan Muslimatan di Modung. Tak ada indikasi bahwa Kiai Shinwani menganut paham Wahabi. Karenanya, Kiai Shinwani sendiri yang harus turun gunung menjelaskan kepada masyarakat Madura utamanya Bangkalan tentang pemikiran yang dituangkan dalam buku Panduan Islam Dalam Logika, agar tidak terjadi kontroversi di masyarakat. Mungkinkah buku karangan Kiai Shinwani hanyalah kesalahan editor ataukah kalangan Salafi sengaja memanipulasinya, wallahu a’lam.

Terlepas dari kontroversi Kiai Shinwani, buku ini tetap layak dibaca di tengah derasnya arus pemikiran Salafi-Wahabi. Titik tolak pada buku ini dipusatkan pada lima pembahasan. Pertama tentang konsep bermazhab ala Ahlusunnah wal Jamaah yang dilahirkan sebagai antitesis terhadap pola pikir anti mazhab kalangan Salafi. Bagian kedua menitikberatkan pada pembahasan tentang hadits dhaif, bagian ketiga tentang pembelaan tentang mukminnya kedua orang tua nabi, bagian keempat tentang pemahaman bid’ah serta bagian kelima tentang tradisi dan hubungannya dengan bid’ah. Pada titik poin pertama, buku karangan A. Qusyairi Ismail dan M. Syafiq Alydrus ini menitikberatkan pada representasi para ulama sunni yang semuanya bermazhab empat termasuk pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah yang memberi isyarat bahwa bermazhab merupakan perilaku beragama yang benar, mulia dan menjaga keselarasan dengan sunnah. Perbedaan pendapat dalam furu’iyah juga menjadi suatu keniscayaan karena hal itu telah dipraktekkan generasi terbaik, kaum salaf.

Pembahasan hadits dhaif dibahas secara ringkas namun secara umum mengena. Selain mengutip pendapat ulama salaf seperti Sufyan Tsauri, Imam Ahmad Bin Hanbal, Sufyan Bin Uyainah, buku ini juga menyebutkan bahwa hadits dhaif pada dasarnya telah diamalkan dan disepakati semua ulama pada bidang fadha’il al a’mal. Buku ini juga menyebut bahwa hadits dhaif terdapat dalam kitab-kitab karangan Imam Ghazali, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan Muhammad Bin Abdul Wahab. Kalau hadits dhaif dalam Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Ghazali para ulama Salafi telah banyak tahu bahkan menggunakannya sebagai amunisi serangan terhadap tasawuf. Namun sayangnya, buku ini tak menyebutkan contoh hadits dhaif dan maudhu’ yang berada dalam kitab-kitab ulama rujukan Salafi seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan Muhammad Abdul Wahab sehingga serangan balik terhadap Salafi menjadi kurang mematikan.

Tentang mukminnya kedua orang tua nabi juga dibahas secara singkat, ringkas dan padat. Tapi pembahasan ini masih kurang mendalam karena kalangan Salafi di beberapa kitab memiliki bantahan berliku untuk mebuktikan bahwa kedua orang tua nabi musyrik. Namun secara umum, buku ini telah memberikan hujjah bantahan tentang keimanan kedua orang tua nabi secara mengena baik melalui analisa tafsir secara singkat, dalil dari hadits serta pendapat para ulama termasuk Ibnu Taimiyah.

Secara umum buku ini layak dibaca namun menurut hemat kami masih sebatas pendahuluan dari sebuah dialog panjang dengan Salafi. Bagi kalangan awam, buku ini sudah cukup sebagai benteng pertahanan yang multiguna. Namun, bagi kalangan intelektual, buku ini masih perlu untuk menyajikan pembahasan secara lebih dalam, detil dan hujjah ilmiah yang lebih banyak lagi. Makin bervariasinya taktik kaum Salafi dalam bergerak dan makin rumitnya mereka dalam menyajikan dalil harus dihadapi dengan sebuah buku yang kajiannya lebih mendalam lagi.