Halaman

Kamis, 21 Maret 2013

KH. Said Aqil Sirodj: Wahabi Itu Pintu ke Teroris


Wahabi Kontributor Teror Bom Memang Terbukti

Ini bukan fitnah, muhammad ibnu abdul wahab adalah pembawa fitnah, kalian (Wahabi pengikut) telah termakan dengan faham sesat itu karena uang, gratis sekolah.
Setidaknya hal itu tercermin dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011). Artikel berjudul “Radikalisme, Hukum, dan Dakwah” ini menarik untuk dicermati, karena KH Said Aqil telah mengaitkan antara pergerakan dakwah Wahabi dengan radikalisme. Beliau bahkan membuat istilah baru tentang dakwah Wahabi, yaitu “ideologi puritanisme radikal.”

Tulisan KH Said Aqil adalah, “Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme.”

Pada alinea lain, KH Said Aqil mengusulkan agar dilakukan “sterilisasi” masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal, sebuah kelompok yang menurutnya seringkali menimbulkan “tawuran” di tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil bahkan meminta masyarakat untuk mewaspadai 12 yayasan dari Timur Tengah yang ditengarai mendapat suntikan dana dari kelompok Wahabi.
Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang dimuat dalam harian ini seolah menyatakan bahwa memerangi ideologi teror sama dengan memerangi ideologi puritan radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai

Wahabi. Kelompok yang saat ini menurutnya mengendap-endap di dunia pendidikan, membawa suntikan beracun berisi “ideologi puritan radikal”.
 
KH. Said Aqil Sirodj: Wahabi Itu Pintu ke Teroris
Wawancara:

KH. Said Aqil Sirodj: Wahabi Itu Pintu ke Teroris

Saya tidak mengatakan Wahabi teroris akan tetapi ajaran Wahabi itu bisa membuka pintu dan peluang ke arah teroris. Ketika ada orang yang mengatakan ziarah kubur itu musyrik, bagi anda yang sudah di doktrin mendengar itu, berarti orang NU musyrik, berarti boleh dibunuh. Tinggal tunggu tanggal kapan dia punya keberanian membunuh atau dia tega dan ada kesempatan atau tidak. 
Semakin meluasnya paham Wahabi di tanah air dianggap sebagai ancaman bagi organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama. Hingga Ketua Umum PBNU, Said Aqil Sirodj harus meneriakan perlawanan terhadap gerakan yang ditudingnya sebagai kelompok Islam ekstrim ini.
Paham yang di tempat asal awalnya memperjuangkan purifikasi (pemurnian- red) agama Islam ini, di Indonesia dinilainya telah berkembang menjadi kelompok intoleran dan bahkan menjadi paham yang menularkan kekerasan dan terorisme.

Paham ini juga dianggap mengancam kemapanan keberagamaan dan toleransi. Karena itu NU menyayangkan tidak adanya antisipasi pemerintah terhadap meluasnya paham ini. Berikut wawancara tim Prioritas dengan Said Aqil.

Bagaimana anda mengidentifikasi gerakan Wahabi di Indonesia?

Sejak tahun 80-an mulai banyak jaringan Arab Saudi yang bukan jaringan negara tetapi jaringan LSM-nya. Menyebarkan ajaran radikalisme ke seluruh negara non Arab, seperti Pakistan, India, Banglades, dan Indonesia. Di Afrika gerakan ini mengganti nama dari Wahabi menjadi Salafi. Itu ide dua orang Nassirudin Al Albani orang Madinah dan Syekh Mukbil Al- Wakdi di kota Damaz Yaman. Yang salah satu muridnya Jafar Umar Thalib itu.Ini dari sana sama sekali tidak membenarkan pergerakan, tapi hanya purifikasi akidah, seperti memusyrikan tahlil dan haul.

Sekarang ada Wahabi yang ekstrim tinggalnya di London, Abdullah Syururi, ini Wahabi yang pergerakan. Di Indonesia dua-duanya ada di sini. Yang sebatas purifikasi akidah, ini kebanyakan tidak membangun organisasi resmi, pokoknya ceramah sana sini. Tapi ada juga yang harokah, berupa gerakan politik.

Bagaimana membedakan gerakan ini bukan formal kerajaan Arab Saudi, sementara paham ini menjadi mahzab resmi di sana?

Begini, Wahabi dahulu pertama kalinya berdiri memang keras berdarah- darah. Yang menentang di bunuh, kalau tidak menentang minimal tidak boleh mengajar. Namun setelah kekuasaan Abdul Aziz stabil, lalu ada amnesti, walaupun bukan Wahabi dipanggil pulang. Artinya kerajaan Saudi sangat berkembang. Raja Faisal orang yang pertama kali membuka televisi dan madrasah perempuan ini, ditentang oleh ulama-ulama sampai dia ditembak, dibunuh karena melenceng dari mazhab Wahabi.Sekarang pun di sana masih begitu, antara pemerintah dan fundamental itu berseberangan.

Saya tidak mengatakan Wahabi teroris akan tetapi ajaran Wahabi itu bisa membuka pintu dan peluang ke arah teroris. Ketika ada orang yang mengatakan ziarah kubur itu musyrik, bagi anda yang sudah di doktrin mendengar itu, berarti orang NU musyrik, berarti boleh dibunuh. Tinggal tunggu tanggal kapan dia punya keberanian membunuh atau dia tega dan ada kesempatan atau tidak.

Jadi munculnya gelombang pembaharuan ini sekonyong-konyong?

Ini bukan pembaharuan tapi purifikasi, tidak sekonyong-konyong. Jadi waktu itu khilafah Ottoman kedodoran wilayahnya dipereteli oleh penjajah. Tinggal ada jazirah Arabia dan Turki sekarang itu. Islam sedang mengalami kemunduran luar biasa. Itu menurut Muhammad bin Abdul Wahab akibat orang Islam meninggalkan jihad, sibuk dengan kuburan, sibuk dengan tarekat dengan dzikir semangat perangnya tidak ada. Kebetulan ada tokoh masyarakat yang disegani karena dia jawara, namanya Muhammad bin Saud, ingin jadi raja (politik), bekerjasama dengan Abdul Wahab yang kepentingannya ideologi.
Namun pertama bergerak dihantam tentara Turki dari Mesir. Cucunya bin Saud, Abdul Aziz lari ke Bahrain, ketemu dengan Inggris dan Amerika yang sedang mengebor minyak, kemudian dilatih, masuk kembali dan menang.

Bagaimana kelompok Wahabi bisa mengumpulkan dana begitu besar?

Saya kira dari masyarakat mereka yang kaya. Proposal yang diajukan mungkin untuk dakwah, membantu yatim piatu dan fakir miskin, bencana alam masa tidak memberikan. Padahal ketika sampai di sini dananya dibelokkan…

Bapak pernah mengatakan bahwa masjid NU sudah banyak diculik, apa ini benar terjadi?

Bukan masjid NU saja, masjid Muhammadiyah juga banyak, prosesnya pertama kali mereka datang ke situ, bilangnya saya ke sini mau mengabdi tidak usah digaji saya mau jadi marbot. Lama-kelamaan mereka ikut rapat ini itu. Misalnya ada rapat di masjid itu besok Jumat yang ceramah, si ustad anu saja, tidak usah dibayar kok. Datang ustadnya ya itulah antara lain (prosesnya). Mereka punya sistem yang cukup canggih. Teroris ada, ada sistemnya, ada dananya, ada tutornya, ada pelatihnya, ada jaringannya.

Nah keadaan terbuka ini dimanfaatkan secara maksimal oleh mereka. Contoh HTI, di Timur Tengah itu dilarang karena pemikirannya menolak adanya nation, dan hanya mau kembali ke khalifah. Tapi di Indonesia tidak?

Kenapa?

Yaitu, saya juga mempertanyakan hal yang sama.

Bagaimana pola ideologisasi Wahabi di Indonesia, apakah sama dengan di luar negeri?

Sama, mereka awal berdirinya adalah orang Islam yang mengamalkan ajaran Rasullulah sesuai penafsiran Muhammad bin Abdul Wahab, kalau kafir, halal darahnya. Tapi saat ini dari pusatnya tidak sekeras itu, prinsip dakwahnya purifikasi agama Islam.
Prinsipnya masih itu yang dipakai. Akan tetapi agak ke sini setelah Syeh bin Baas, tidak sama pola gerakannya. Hanya jangan ikut bid’ah, tidak ada kata bunuh.

Kalau pola-pola dakwah yang paling utama?

Ya itu tadi di masjid-masjid.

Mereka mendirikan pesantren juga?

Iya, bikin pesantren bikin yayasan, ada 12 yayasan di sini.

Apakah NU pernah mengusulkan Hizbut Tahrir Indonesia ditutup pemerintah?

Secara diskusi sering, bukan langsung perintah, tapi pertimbangan dengan bapak SBY. NU itu diusulkan Ki Wahab kepada Kyai Hasyim didirikan tahun 1914. Namun saat itu belum diizinkan. Tapi tahun 1926 baru diizinkan sebagai reaksi atas Wahabi, karena Wahabi di sana membongkar situs-situs sejarah. Kuburan diratakan dengan tanah. Di Baqi 15.000 kuburan sahabat rata dengan tanah. Kuburanya Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar yang ada di pojok masjid juga akan dibongkar. Berangkatlah ke sana komite Hijaz, Kyai Wahab, Kyai Zul Arifi n, Syeh Gonaim orang Mesir yang tinggal di Surabaya, dan Hajah Hasan Kipo mohon kepada raja Abdul Aziz agar itu tidak dilakukan.

Soviet saja tidak membongkar kuburan Baihaqi, Buchori yang ada di Samarkand Uzbekistan. Sekarang di Baqi kita mencari kuburan Siti Aisyah saja tidak tahu. Kuburan istri Nabi dimana, bibinya Nabi dimana? Rata dengan tanah. Begitu juga dengan rumah tempat lahirnya Nabi Muhammad ketika pertama kali Wahabi masuk itu dijadikan wc, rumahnya Sayidina Ali dijadikan kandang keledai. Memang sekarang tidak lagi, rumah Nabi jadi perpustakaan, rumah Ali jadi madrasah.

Di masjid itu ada pintu bani Saibah di buang, ada makam Syafi’i dibuang, Baitul Arkom tempat pertama kali Nabi mengkader, dibongkar. Rumahnya Siti Khadijah dibongkar. Rugi besar itu situs sejarah.

Seperti apa tafsiran Abdul Wahab kok bisa luar biasa menyihir?

 Apa yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad itu bid’ah, dan bid’ah itu harus diperangi, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap sesat itu itu pasti neraka. Itu memang ada dasar dalilnya.

Tapi kita juga kalau mau mencari dasar dalilnya seabreg-abreg. Rasullulah setiap Jumat sore ziarah kubur ke Baqi, setiap tahun ziarah ke Gunung Uhud karena ada kuburan Hamzah, itu kan berarti haul. Apalagi soal memuji-muji Nabi dan sahabat, seabreg-abreg seperti Maulid, saya punya tiga jilid volume buku isinya para sahabat bikin syair memuji Nabi.

Kalau Wahabi bagaimana?

 Mereka hanya mengakui dua hari besar Idul Fitri dan Idul Adha lain itu bid’ah semua. Sekarang rupanya mereka sedang blunder kalau hari nasional tidak diperingati generasi muda tidak akan paham walaupun ada di pelajaran. Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Saudi, apabila tidak diperingati setiap tahun dengan seremonial. Kurang membekas dong.

Apakah dalam hidupnya Abdul Wahab sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad?

 Iya yang ia yakini dijalankan, untuk dirinya dan keluarganya.

Seberapa besar potensi Wahabi di Indonesia mampu membuat kerusakan untuk Islam Indonesia?

 Itu tadi setiap dakwah di daerah mengobrak-abrik yang sudah mapan, terjadilah kerusakan. Masyarakat sudah tenang-tenang setiap syukuran baca maulid, setiap ada kematian baca tahlil, sewaktuwaktu ziarah kubur ke orang tuanya.
Nabi Muhammad itu 13 tahun di Mekah, di masjid ada 330 berhala diatas kabah ada Hubal namanya, tidak pernah diganggu. Setelah hijrah ke Madinah, dan orang Mekah berbondong-bondong masuk Islam, baru dengan kesadaran sendiri membersihkan Masjidil Haram dari berhala.

Jadi mereka kokoh karena selain ideologi juga karena memiliki kekuasaan?

Memang sampai sekarang Wahabi tanpa kekuasaan tidak akan laku. Siapa sih orang bangga ikut Wahabi. Kita bangga dong ikut Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi , yang jelas kaliber imam besar.

Apa tujuan Wahabi di Indonesia?

 Pertama kali dari sananya itu purifikasi, tapi ditataran action ya ada kepentingan.

 Tapi pemerintah tak bereaksi menghadapi gerakan seperti ini, atau ada pembiaran?

 Ya kita juga tidak tahu kenapa, karena reformasi dan keterbukaan ini setiap orang mendaftarkan LSM Mendagri tidak bisa menolak. Saya pernah diskusi dengan Mendagri di depan Presiden malah. Cobalah ditinjau ulang kembali, tegas saja menurut saya yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dengan kebhinekaan larang saja organisasinya apapun dan siapa pun.

Tapi sampai sekarang belum ada tindakan?

 Ya itu, belum ada makanya tampak seperti ada pembiaran padahal katakanlah HTI tadi, sudah menolak nation, kalau di Timur Tengah sudah di tolak

Apa Wahabi bisa disebut musuh besar NU dan umat Islam Indonesia?

 Ya musuh dalam tanda petik, bahwa tidak semua yang dari Arab itu bisa kita terima di sini. Kyai Hasyim, Kyai Bisri, Kyai Wahab semua belajar di Arab, pulang tidak jadi kyai Arab, kyai Jawa. Sama saja Pak Hatta kuliah di Belanda pulang gak jadi liberal.

Apa langkah NU untuk mengisolasi gerakan Wahabi dan menyadarkan yang sudah terjebak?

Ya kita tidak henti-hentinya dakwah dan kaderisasi atau memperkuat pelajaran di pesantren. Tapi pertahanan paling kuat adalah keluarga, bila ada anak mendengar khutbah di masjib Wahabi lalu pulang lihat bapaknya tahlil di rumah selesai itu. Mental gak masuk.

Kalau yang namanya ekstrimis itu di mana saja sama. Pokoknya yang bertentangan dengan budaya dan peradaban berarti bertentangan dengan fi trah manusia pasti akan mental, yang langgeng adalah yang moderat dan toleran.

BiodataK.H. Said Aqil Sirodj

Tempat dan tanggal lahir: Cirebon, 03 Juli 1953

Riwayat Pendidikan Pendidikan Formal
  • S1 Universitas King Abdul Aziz , Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982
  • S2 Universitas Ummu al-Qur’an, jurusan Perbandingan Agama, tamat
    1987
  • S3 Universitas Ummu al-Qur’an, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1994
Pendidikan Non Formal
  • Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek C irebon
  • Pesantren Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri (1965-1970)
  • Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta (1972-1975)
Aktivitas Profesi
  • Ketua PBNU
  • Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa
  • Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI
  • Penasehat PMKRI
  • Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia
  • Dosen pasca sarjana ST Maqdum Ibrahim Tuban
  • Dosen pasca sarjana Universitas Nahdlatul Ulama UNU solo
  • Dosen pasca sarjana Unisma, Malang
  • Dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatulah Jakarta
  • Penasehat dosen MKDU di Universitas Surabaya
  • Dosen luar biasa Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Sepatutnya Kita Mencontoh Imam Ali Bin Abi Tholib KW

Sepatutnya Kita Mencontoh Imam Ali Bin Abi Tholib KW

 
Bukan satu hal yang berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa Imam Ali as termasuk orang yang berada pada derajat pertama dalam masalah ibadah. Dengan demikian dalam hal ibadah beliau menjadi pemimpin seluruh orang-orang Mukmin. Sebagian besar dari kehidupan penuh berkahnya dilewati dengan bermunajat kepada Allah Swt.Sekaitan dengan hal ini, Imam Musa Kazhim as berkata, “Ayat ini yang menyebutkan ‘… Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, …’(1) diturunkan mengenai Imam Ali as.”
.
Dalam riwayat disebutkan bahwa di tengah berkecamuknya perang Shiffin sebelah mata Imam Ali as mengawasi musuh dan sebelahnya lagi berjaga-jaga melihat matahari dan menanti azan berkumandang
.
Ibnu Abbas yang memperhatikan hal ini berkata kepada beliau, “Saat ini sedang mencapai puncaknya peperangan dan kita tidak punya kesempatan untuk melakukan shalat di awal waktu.”Imam Ali as menjawab, “Perang yang kita lakukan menghadapi musuh ini tujuannya untuk melindungi shalat agar tetap tegak.”Beliau sendiri pernah berkata, “Ya Allah! Saya tidak pernah menyembah-Mu karena takut akan api neraka dan berharap surga. Satu-satunya tujuanku adalah sampai kepada rahmat-Mu dan dekat kepada-Mu.” (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Kiai Kampung NU lebih Berperan Ketimbang Ulama Wahabi

Kiai Kampung NU lebih Berperan Ketimbang Ulama Wahabi


Banyaknya ulama tersohor di Timur Tengah (Timteng) belum bisa menjadi solusi bagi pergolakan sosial dan politik yang ada. Indonesia dinilai lebih beruntung, meski hanya memiliki kiai kampung, masyarakatnya sanggup hidup integral secara harmonis.

Kiai kampung masih bisa berperan. Kita mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” terang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, ketika membuka pelatihan dai-daiyah NU di Jakarta, Jumat (27/7).

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyebut beberapa ulama, seperti Wahbah Zuhaili, Said Ramadhan al-Buwaithi, Syaikh Ali Jum’ah, dan Yusuf Qaradlwi. Mereka adalah cendekia muslim istimewa dengan beragam karya yang dirujuk masyarakat dunia. “Mereka belum bisa berperan efektif,” katanya.

Ulama Indonesia, sambungnya, memang tidak sedalam ulama Timur Tengah dalam hal karya-karya tulis. Namun, bicara soal fungsi sosial dan kebudayaan kiai tanah air dianggap lebih unggul. “Ulama Timur Tengah yatafaqqahu kenceng tapi yundziru qaumahum-nya lemah,” ujarnya.

Hal ini dibuktikan dengan kemampuan para ulama Nusantara dalam mengintegrasikan semangat Islam dan kebangsaan. Mereka berhasil merumuskan tiga ukhuwah, yaitu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

“Dengan ini, kita memperjuangkan negara berarti mengamalkan Islam, memperjuangkan Islam berarti memperjuangkan negara,” tandasnya.

Menurut Kang Said, ini ditunjang oleh pemahaman para kiai dalam menggunakan fiqhud da’wah (fiqih berdakwah), yang dibedakan dengan fiqul ahkam (fiqih hukum) dan fiqhul hikmah (fiqih kebijaksanaan).

“Jadi mendalami agama tidak cukup dengan jenggot, tidak cukup dengan jidat hitam, tidak cukup dengan celana setengah kaki,” tandasnya

Rabu, 20 Maret 2013

Cermin Keberanian Seorang Sufi

Cermin Keberanian Seorang Sufi

Abdul Bashir (35 thn)-Korban Selamat Tenggelamnya KM Senopati Nusantara
Bagi Abdul Bashir, warga Demak, yang bekerja di perusahaan meubel di Kalimantan Tengah, peristiwa tenggelamnya KM Senopati Nusantara di penghujung tahun 2006 lalu sungguh menjadi peristiwa Desember kelabu yang tidak
bisa terlupakan sepanjang hayatnya. Bashir, begitu ia biasa disapa, adalah satu dari 500 orang penumpang, yang selamat saat KM Senopati Nusantara yang berlabuh dari pelabuhan Kumai Kalimantan Tengah menuju
Pelabuhan Tanjung Mas Semarang Jawa Tengah tenggelam ditengah lautan.

“Saat kapal mulai oleng, hampir seluruh penumpang terlihat panik. Suara tangis, jeritan dan gema takbir penumpang bertalu-talu menjadi satu,” kenang Bashir. “Kepanikan itu semakin menjadi, tengah malam, menjelang tenggelam dan kapal sudah kehilangan kendali, para penumpang histeris berlari tak menentu arah.
Ditambah lagi lampu mati, hujan turun dengan derasnya di iringi gelegar petir yang seakan saling bersahutan dan akhirnya menyambar salah satu sisi kapal yang sudah mulai digenangi air laut dan air hujan,” tambah Bashir.     

Namun bagi setiap penempuh jalan spiritual, utamanya Bashir, tawakal atau berpegang teguh pada Allah, menjadi modal pertama dan utama dalam menghadapi berbagai kehidupan. Bashir merasa beruntung saat musibah itu menimpanya ia sudah bertarekat. Ia telah berbaiat memilih tarekat syaadziliyyah  pada mursyid kaamil mukammil  di Tulung Agung, Jawa Timur.

Laku lampah yang di dapat dari tarekat syaadziliyyah menghantarkan Bashir dapat bertawakkal, menjaga kesantunan nya kepada Allah meski dalam suasana yang sangat genting dan mencekam. Saat itulah Bashir “melihat” bahwa tawakkal  bisa jadi dirasa tidak memuaskan sebab ia menuntut kesabaran. Ia seolah ingin mengatakan bahwa banyak orang yang tak mampu bertawakkal karena hawa nafsunya menolak untuk bersabar. Tapi bagi Bashir di dalam kesabaran itulah memang letak ujiannya. Itulah yang membuatnya rela mendahulukan orang lain berebut jalan dan mengambil pelampung demi keselamatan mereka. Itulah yang menjadikan Bashir pasrah disaat tubuhnya akan tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya kapal dengan puluhan sepeda motor, kendaraan roda empat dan truk didalamnya.

Musibah atau bencana memang tak bisa di biarkan, tetapi ia harus diperjuangkan dengan cara-cara yang telah disediakan Allah, yakni tawakkal dan sabar. Bashir tak membiarkan kepasrahan hatinya lepas dari Allah. Ia pasrah sepasrah-pasrahnya. Ia sabar sesabar-sabarnya dan tak mengizinkan nafsunya liar mencari alat penyelamat selain Allah. Bagi Bashir, apalah artinya pelampung yang membungkus dada, jika Allah tak bersemayam di dalam dada; Apalah arti sebuah keselamatan jika keselamatan itu di dapat dari hasil nafsu yang meronta-ronta. “Na’udzubillah !,” tukasnya, singkat.

Air laut sudah menggenangi hingga batas dadanya, kedua tapak kakinya telah berpisah dari lantai dek kapal yang dipijak sebelumnya. Kapal itu pun semakin jauh tenggelam menuju dasar permukaan laut bersama berbagai puluhan kendaraan dan barang-barang bawaan penumpang. Namun Bashir sedikit pun tak bergeming dalam tawakal dan sabar. Ia benar-benar telah sampai pada fatwa Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy yang mengatakan, ‘’Apa yang menjadi urusanmu, tak perlu kau turut mengaturnya. Apabila kalian harus mengatur diri juga, maka lebih baik aturlah agar kalian tidak mengatur. Keberpalingan mu (untuk tidak mengatur) dan semua urusanmu, serahkan saja kepada Allah Swt.”

Di luar tugas menafsirkan dan meyakini hukum kemanusiaan bahwa manusia harus berikhtiar, ada tugas yang sangat jelas di mata Bashir saat itu yakni kewajiban menerima taqdir Allah dengan tawakkal dan sabar hingga tubuh dan seluruh organ batinnya secara utuh merasakan makna hakiki firman Allah yang berbunyi,
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki dan dipilih-Nya. Mereka tidak dapat memilih. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.”  (Q.S. al-Qhashas (28) : 68)”
 Ia terima semua yang datang dari Allah tidak karena ukuran selamat atau celaka, tetapi dengan ukuran iman yang menghiasi hati sanubarinya sendiri. Lalu Allah-pun memberinya kesanggupan mengibarkan tawakkal dan sabar dalam dirinya, hingga pada akhirnya tawakkal  dan sabar yang terkibar itu menjadi “energi” tersendiri.

Di tengah lautan yang gelap gulita dan badai ombak yang mencapai ketinggian enam meter, Allah mengapungkan tubuhnya (tanpa sekoci dan pelampung) hingga tidak turut tenggelam seperti yang dialami puluhan penumpang lainnya. “Alhamdulillah, Mas. Saya tidak turut tenggelam. Allah mengapungkan saya meski tanpa pelampung,” tutur Basir yang sejurus kemudian mengatakan, “Saya yakin ini rahmat Allah yang Allah salurkan lewat aurod (jamak dari wird; red) syadziliyyah dan berkah doa mursyid !,”  jelas Basir penuh semangat.
Meski demikian, ia terus berjuang. Berjuang bukan untuk agar dapat secepatnya ke tepi lautan. Ia berjuang agar hatinya tetap menjadi baitullah, rumah Allah. Dan dzikir
Allah…Allah..Allah…pun terus di gemakan nya hingga (kira-kira lima menit kemudian) ia melihat sekoci yang semula dianggapnya sebagai onggokan sampah menghampirinya. Ia menghindari sekoci itu. Namun uniknya, semakin ia menghindari, semakin cepat sekoci itu mendekat dan menghampiri Basir. Ia tak sanggup menghindari dan diraihnya pula sekoci yang ternyata sudah ada tiga orang penumpang dalam keadaan lunglai di dalam sekoci yang hanya muat untuk ditumpangi empat orang penumpang itu. 
Empat hari tiga malam, ia terombang-ambing tak menentu arah ditengah lautan, hingga sebelum terdampar ditepian pantai ia berpapasan dengan sekoci yang lebih besar lagi yang sudah ditumpangi sembilan orang korban naas lainnya. Bashir bersama ketiga korban lainnya berinisiatif untuk pindah ke sekoci yang memang muat untuk ditumpangi oleh lima belas orang itu.

Bersama ke dua belas rekan senasibnya itu, akhirnya Bashir terdampar di anjungan pengeboran minyak di kepulauan Bawean dan tepat tanggal 1 Januari 2007 pukul setengah satu siang Bashir mendapat pertolongan medis dari pegawai pengeboran minyak disana. Bashir dan ketiga belas rekannya pun diantar ke kepulauan Surabaya untuk mendapat pertolongan medis lanjutan.   
Bala’  yang tidak indah, pedih dan tragis telah memancing Bashir menjadi pemberani sejati dalam mewujudkan sumpah yang senantiasa diucapkan disetiap shalatnya; inna sholatiy wa nusukiy wa mahyaaya wa mamatiy lillaahi robbil ‘aalamiin; sesungguhnya shalatku, jalanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah
Tuhan semesta alam. Pemberani dalam pengertian sebenarnya. Ia benar-benar telah membuktikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan cita-cita mulai dari dalam hatinya. Inilah keberanian yang sesungguhnya dituntut dari setiap penempuh jalan spiritual.   
Maka, patut bagi setiap penempuh Dunia Ruhani yang masih bernyali kecil dan bergantung pada makhluk untuk merenungkan sabda Nabi: “Jika Allah Swt mencintai seorang hamba-Nya maka ia akan di uji dengan bala. Jika dia sabar, maka Allah akan memilihnya. Jika ia ridla, maka Allah akan mengistimewakannya.”

Jadilah Pengurus yang Bisa Mengurus!


Jadilah Pengurus yang Bisa Mengurus!
Jika kita memasuki aula PCNU Kabupaten Situbondo, akan menemukan kemegahan organisasi yang didirikan para ulama pada tahun 1926 di Surabaya tersebut.

Aula yang luas itu terletak di lantai dua. Ruangannya dilengkapi dengan 27 kipas angin yang masih berfungsi. Ada 8 sound sistem persegi panjang menempel dinding. Juga delapan tong sampah.

Di dindingnya, ada lambang Garuda Pancasila, serta Presiden dan Wakil Presiden RI. Di dinding tersebut pula ada slogan bersifat anjuran. Salah satunya berbunyi, “Jadilah pengurus yang pandai mengurus, bukan pengurus yang justru menjadi urusan.”

Anjuran tersebut dicetak kapital seolah ingin jelas terlihat bagi orang tua sekalipun. Bahkan dari kejauhan. Seolah tak cukup sekali, anjuran tersebut ada di sebuah dinding lantai dasar. Juga dengan huruf kapital.

“Itu saya yang buat,” kata ketua PCNU Kabupaten Situbondo KH Fauzan Masruri dengan logat Madura kental, kepada NU Online, di gedung tersebut pada Februari lalu.

Kiai Fauzan mengatakan anjuran tersebut sebenarnya banyak terungkap pada pidato tokoh-tokoh NU. Kemudian ia berinisiatif mencetak dan menempelkannya di gedung PCNU.

Ketika ditanya tujuan pencantuman kalimat itu, Kiai Fauzan mengatakan, supaya semasa kepengurusannya tampil beda dari sebelumnya. “Jadi pengurus bukan karena terpaksa, bukan karena “sesuatu”, tapi panggilan hati nurani,” tambahnya.

Maksudnya menjadi pengurus tidak boleh jadi urusan, sambung Fauzan, kalau menjadi ketua sebuah lembaga misalnya, harus aktif. Jangan sampai susah ditemuai sama umatnya. “Itu kan menjadi urusan!” tegasnya.

Selain kalimat tersebut, di lantai dasar gedung ada kalimat berkata, “Mantapkan niat, teguhkan komitmen, kobarkan semangat, bulatkan tekad, satukan langkah; untuk mewujudkan Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah bermartabat.”

Ada juga kalimat seperti ini, “Jangan katakan apa yang aku dapat dari NU, tapi katakan apa yang dapat aku berikan kepada NU”. Sementara di atas sebuah potret Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari ada tulisan, “NU adalah rumahku, bukan kendaraanku untuk mencapai segala kepentingan pribadiku”.

Selasa, 19 Maret 2013

Ini Alasan Masjid NU Harus Dilabeli

Ini Alasan Masjid NU Harus Dilabeli
Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi mengimbau supaya masjid-masjid yang didirikan dan dikelola Nahdliyin segera dilabeli atribut-atribut NU. Atribut itu dengan penempelan almanak atau jadwal waktu shalat berlogo NU.

“Apakah ini akan menyebabkan menguatnya ashabiyah (golonganisme, red) di kalangan umat Islam?” tanya Kiai Masdar kepada ratusan peserta Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Lembaga Ta’mir Masjid (LTMNU) Kabupaten Subang, Ahad, (17/3) lalu. 

Kiai Masdar menjawab dengan tegas, tidak!

Ia kemudian menukil kaidah ushul fiqh, la dharar wa la dhirar, jangan merugikan orang lain dan jangan membiarkan orang lain merugikan kita. Terjemahan bebas dalam konteks masjid NU sekarang adalah, jangan mengambil masjid milik orang lain dan jangan membiarkan orang lain mengambil masjid milik kita.  

Ia menambahkan masjid yang tidak dilabeli justru menjadi tempat keributan, yaitu menjadi ajang perebutan antar-golongan. Ketika dilabeli NU, golongan yang akan berebut sudah paham ini milik orang lain.

Orang NU harus membolehkan golongan lain untuk shalat di masjid NU, tetapi mereka harus diperlakukan sebagai tamu yang tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga masjid.

“Lalu bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa setiap masjid itu milik Allah?” tanyanya.

Ia menjawab sendiri dengan analogi, jika seorang pencuri mengambil harta milik kita, ia akan menjawab juga bahwa yang dicuri adalah milik Allah.

Melabeli masjid NU bukan meruntuhkan pendapat bahwa masjid milik Allah, tetapi kita sebagai pemilik nisbi bertanggung jawab menjaganya dengan cara kita sendiri. 

Senin, 18 Maret 2013

Kata Mutiara

Kata Mutiara


Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"Pilar terbentuknya harga diri itu ada empat :
  • Kemuliaaan Akhlak
  • Kedermawanan
  • Sikap santun
  • Ibadah yang Istiqomah"

Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"-jeleknya bekal menuju kealam akhirat adalah permusuhan dengan sesama"

Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"Barangsiapa yang menginginkan khusnul khatimah dipenghujung umurnya,maka hendaknya ia berprasangka baik kepada semua manusia"

Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya dan manusia yang paling banyak kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya"

Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketakwaannya, maka ia idak memiliki harga diri"

Al-Imam Al-Habib Abdullah al-Aydrus al-Akbar ra berkata :

"Janganlah engkau abaikan sedekah pada setiap hari, sekalipun engkau hanya bersedekah sekecil atom"

Al-Imam Al-Habib Abdullah al-Aydrus al-Akbar ra berkata :

"Kebaikan seluruhnya adalah bersumber dari sedikit bicara"

Al-Imam Al-Habib Abdullah al-Aydrus al-Akbar ra berkata :

"Barangsiapa yang menginginkan keridhaan Allah SWT, maka hendaklah ia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena keajaiban dan kelembutan Allah SWT terdapat pada akhir malam"

Al-Imam Al-Habib Abdullah al-Aydrus al-Akbar ra berkata :

"Ciri-ciri orang yang bahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya, banyak ilmu dan amal serta baik perangai maupun tingkah lakunya"

Al-Imam asy-Syafi'i ra berkata :

"Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketakwaannya, maka ia idak memiliki harga diri"

Al-Imam Al-Habib Abdullah al-Aydrus al-Akbar ra berkata :

"yang paling banyak takut kepada Allah SWT adalah orang yang paling banyak bersedih"

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos :

"Berziarahlah kamu kepada orang-orang sholeh! Karena orang-orang sholeh adalah obat hati"

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos :

"Sebaik-baiknya teman adalah Al-Qur'an! dan seburuk-buruknya teman adalah syaitan!"

Berkata Al Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir Al Haddad :

"Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik."

Berkata Al Habib Umar Bin Hud Al Atthos :

"Bos yang wajib di patuhi adalah Allah SWT"

Berkata Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid (Tanggul) :

"Kunci kekayaan adalah shodaqoh, dan kunci kemiskinan adalah pelit"

Berkata Al Habib Abdullah Bin Abdull Qadir Bin Ahmad Balfaqih :

"Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu fiqih"

Berkata Al Habib Muhsin Bin Abdullah Al Atthos :

"Semua para wali di angkat karena hatinya yang bersih, tidak sombong, dengki, dan selalu rendah diri"

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas :

" Guru yang paling bertaqwa adalah Nabi Muhammad SAW, dan Rasulullah bersabda : " Aku di didik oleh Tuhanku dengan sebaik-baiknya didikan".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas :

" Terangi rumahmu dengan lampu, dan terangi hatimu dengan Al-Qur'an".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas :

" Bermaksiatlah sepuas kamu pasti kamu akan mati, dan beramal sholehlah pasti kamu akan mati ".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas :

" Jadikan akalmu, hatimu, ruhmu, jasadmu, karena bila semua terisi dengan namanya berbahagialah kamu ".

Berkata Al Habib Alwi Bin Muhammad Al Haddad :

" Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang-orang yang sholeh, karena mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit ".

Berkata Al Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf (Sayyidil Walid ) :

" Ilmu itu bagai lautan dan tak akan ada yang mengenalnya kecuali merasakannya ".

Berkata Syekh Abu Bakar Bin Salim (Seorang Tokoh Besar di Negri yaman, di Kampung Inat) :

"Janganlah kau tunda-tunda kebaikan sampai esok hari, karena engkau tak tahu apakah umurmu sampai esok hari".

Berkata Sayidina Ali Bin Abu Tholib Ra :

"Bukanlah seorang pemuda yang membanggakan harta dan kedudukan ayahnya, tetapi seorang pemuda yang berkata inilah aku (Beramal Sholeh)".

Berkata Imam Syafi'i :

"Cintailah orang sholeh, karena mereka memiliki kesholehannya, cintailah Nabi Muhammad SAW, karena dia kekasih Allah SWT, dan cintailah Allah SWT, karena dia kecintaan Nabi dan orang Sholeh".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas (Keramat Bogor) :

"Istiqomah didalam agama menjauhkan kesedihan dan ketakutan".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas (Keramat Bogor) :

"Ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan ikhlas, maka ikhlas mendatangkan keridho'an".

Berkata Imam Syafi'i :

"Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya tak masuk kepada kemaksiatan".

Berkata Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas (Keramat Bogor) :

"Kunci kesuksesan ada tiga, yaitu :
1. Menuntut ilmu dan beramal.
2. Istiqomah dan sabar.
3. Saling menghormati."

Perkataan Ulama

Sesungguhnya cahaya (Rasulullah) itu apabila masuk kedalam hati maka akan membuat tenang dan terbuka

BAB ILMU :

Nabi Sulaiman as diberikan pilihan antara ilmu atau harta atau tahta kerajaan, lalu dia memilih ilmu maka dia mendapatkan semuanya.

Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang beriman dan berilmu yang mana apabila dibutuhkan dia bisa memberi manfaat kepada yang lain dan apabila dia sedang tidak dibutuhkan dia bisa mencukupi dirinya sendiri.

Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim as "Wahai Ibrahim, Aku adalah Zat yang Maha mengetahui yang mencintai setiap orang yang memiliki ilmu pengetahuan".

Orang alim merupakan kepercayaannya Allah SWT dimuka bumi.
Kematiannya suatu suku bangsa lebih ringan dibandingkan kematiannya seorang alim.

Dua golongan dari umatku apabila mereka bergabung maka manusia akan hidup harmonis dan apabila mereka berselisih maka akan rusak kehidupan manusia. Mereka adalah para ulama dan para pemimpin.
Ilmu itu adalah lemari dan kuncinya adalah bertanya maka bertanyalah sesungguhnya dengan sebab bertanya 4 orang ini akan diberi pahala :
1. Orang yg bertanya.
2. Orang alim.
3. Orang yg ikut mendengarkannya.
4. Orang yg mencintai mereka.

Tidak ada yang pantas dikasihani kecuali kedua orang ini, Seseorang yg mencari ilmu tapi tidak paham-paham dan seseorang yang tahu kadarnya ilmu tapi tidak mau mencarinya.